Aku, Kau, Dan Sepucuk Angpau Merah karya Bang Darwis Tere Liye merupakan novel yang paling Dinda sukai (sejauh ini), ya Dinda menyadari bacaan yang telah dibaca selama lebih dari 18 tahun ini belum banyak (selain buku pelajaran) bahkan bisa dibilang sangat sedikit kalau dibandingkan dengan orang-orang yang suka memberi review maupun kritik terhadap suatu karya sastra.
Tapi bukan jadi masalah kan untuk memulai segala sesuatu demi keberhasilan diri sendiri? Apa salahnya mencoba? Itu adalah suggest dalam diriku saat mengetik blog ini selain karna tugas dari Pak Bram hehehe.
“Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti.”
Inti cerita dari novel ini adalah kisah cinta pemuda polos asal Kalimantan bernama Borno yang jatuh cinta terhadap Mei, gadis anggun rantauan dari Surabaya yang naik di sepit (perahu) Borno. Karena Borno memang berprofesi sebagai supir sepit di sungai Kapuas.
Bagian cerita favorit pada novel ini adalah di setiap Borno melakukan tingkah lucu nan konyol khas pemuda polos jatuh cinta, seperti menguntit dan mengintip kegiatan Mei di sebrang Kapuas, tidak mau menarik sepit sampai ia tahu pasti Mei menyebrang Kapuas dengan sepitnya, juga membelakan diri untuk menemani Mei pulang ke Surabaya.
Ya mungkin cerita cinta seperti ini terdengar klasik dan sudah mainstream menjadi dasar cerita karya-karya sastra lainnya, namun yang menjadikan novel ini favorit Dinda adalah karena dalam novel ini settingan lokasi yang diceritakan dan dijabarkan membuat pikiran Dinda terbang jauh membayangkan bahwa semua itu nyata ada di depan mata. Setiap detail yang menceritakan tentang lingkungan kehidupan masyarakat sekitar sungai Kapuas (khususnya) menambah rasa penasaran saya terhadap kehidupan nyata yang ada disana, bang Tere Liye juga memasukan dialek Kalimantan dalam percakapan Borno dengan teman-teman maupun keluarganya, menceritakan etnis juga kebiasaan masyarakat sekitar Kapuas yang sederhana dan khas membuat Dinda turut hadir dalam cerita tersebut.
Dinda sangat tertarik untuk memahami kehidupan maupun kebiasaan masyarakat adat lain, mendengar cerita pengalaman Bapak yang pernah hidup di Kalimantan selama beberapa tahun membuat Dinda tertarik terhadap kehidupan yang ada disana. Dan saat membaca novel ini Dinda merasa turut hidup dalam lingkungan tersebut, juga menambah penasaran yang luar biasa setelah selesai membacanya.
Singkatnya, novel ini mengantarkan Dinda pada kehidupan lain yang ingin Dinda intip dengan seksama. Terimakasih bang Tere Liye, yang sempat Dinda kira perempuan.
Dinda sangat tertarik untuk memahami kehidupan maupun kebiasaan masyarakat adat lain, mendengar cerita pengalaman Bapak yang pernah hidup di Kalimantan selama beberapa tahun membuat Dinda tertarik terhadap kehidupan yang ada disana. Dan saat membaca novel ini Dinda merasa turut hidup dalam lingkungan tersebut, juga menambah penasaran yang luar biasa setelah selesai membacanya.
Singkatnya, novel ini mengantarkan Dinda pada kehidupan lain yang ingin Dinda intip dengan seksama. Terimakasih bang Tere Liye, yang sempat Dinda kira perempuan.
Saya kira anda orang yang paling ngirit ngomong, ternyata anda bawel sekali. Membacalah lebih banyak lagi, suatu saat nanti buku yang kamu buat pasti di baca banyak orang lebih dari yang kamu bayangkan.
BalasHapusDear unknown, terimakasih sudah mau mampir di blog ala-ala ini.
BalasHapusTerimakasih sudah mau berkomentar.
Dan fyi, Dinda sejauh ini belum kepikiran untuk menulis buku, ya tapi komentar Unknown bisa bikin Dinda kepikiran untuk memulai hal itu kok.
Terimakasih sekali lagi.
Omg! Sifat Dinda ternyata bisa terbaca ya dari tulisan ini? Hehehe